Sekeping Cerita di Ujung Senja

March 30, 2007

Pisang Goreng

Filed under: Keseharian

Pisang yang dibalut adonan tepung beras, digoreng dan disajikan panas-panas adalah hidangan yang pas untuk menemani minum kopi atau teh di sore hari. Aromanya menggugah selera, apalagi dinikmati sambil ngobrol di teras bersama keluarga atau teman. Hidangan sederhana, murah dan nikmat ini sangat gampang dibuat atau dibeli dari penjual di pinggir jalan dengan harga terjangkau. Meski sekarang rasanya bervariasi dengan tambahan coklat, keju atau mentega, yang tradisional dengan adonan tepung beras yang diberi sedikit garam tetap paling diminati.

Kemarin sajian khas kegemaran keluarga ini diganti dengan hidangan bule selera Indonesia, macaroni schotel. Pasta yang dipadu dengan daging, susu, keju, telur, jamur dan bumbu-bumbu, dipanggang dalam oven dan disajikan panas-panas dengan sambal botolan…khas Indonesia. Rasanya memang kurang pas bila tanpa sambal, malah kadang digantikan dengan cabe rawit utuh yang tentu saja membuat penikmatnya semakin hot karena kepedasan. Dari segi harga, pisang goreng jelas kalah bersaing dengan makanan bule, tapi dari segi penggemar, jarang ditemui orang Indonesia yang tidak suka makan pisang goreng, tapi banyak yang tidak suka makanan bule dengan campuran susu atau keju, mamaku salah satunya.

Sekali waktu aku pulang kerja membawa seloyang pizza. Mama memandang ngeri saat kami mengambil potongan pizza dengan keju meleleh dan menyantapnya dengan nikmat (tentu saja dengan tambahan sambal botolan). Jadi aku lebih memilih membawakan pisang goreng saat pulang kerja, yang dikemas dalam plastik kresek berlapis daun pisang atau terkadang kotak murahan dengan tulisan "selamat menikmati" di bagian tutupnya. 

Sore ini, kenikmatan pisang goreng disajikan dengan secangkir teh panas yang berasal dari seduhan daun teh dan racikan bunga melati, bukan teh celup dalam kemasan sachet atau teh instan yang belakangan banyak beredar di pasaran. Benar-benar nikmat untuk mengakhiri hari yang melelahkan.

 

 

Suatu Sore di Angkutan Kota

Filed under: Keseharian

Sore ini aku menikmati fasilitas umum yang sudah jarang aku gunakan. Angkot di kotaku tidak berbeda dengan angkot di kota-kota lain di negara tercinta ini, padat, panas, berdesakan, bisa berhenti dimanapun sesuai permintaan penumpang plus jago menyalip dan kebut-kebutan tanpa peduli penumpang di belakang terpental kesana-kemari.

Jika biasanya pandangan orang dalam angkot menembus ke kaca mobilku dan melihatku duduk santai sambil menikmati musik di mobil yang nyaman ber-ac, kini aku yang memandang nelangsa ke arah kaca gelap mobil-mobil pribadi di sekelilingku. Betapa nyamannya jika saat ini kuda Jepang itu tidak sedang parkir di bengkel. Apapun keadaannya, sore yang cerah ini, aku duduk manis di dalam angkot, di sebelah ibu muda dengan balitanya yang menangis kepanasan dan di seberang bapak tua yang terkantuk-kantuk kelelahan sambil mendekap erat tas lusuh di pelukannya.

Persiapan sudah lengkap di tas kerjaku, tissue, sebotol air minum kemasan, permen pedas dan beberapa lembar pecahan seribu. Kuberikan botol air minum kepada ibu muda yang balitanya tak henti menangis. Si kecil menyedot perlahan isi botol dan mulai kelihatan tenang. Kuperkirakan umurnya tak lebih dari dua tahun. Ibunya yang berkeringat tersenyum padaku, berterima kasih dan memulai percakapan ringan menanyakan tujuan dan menceritakan sedikit story tentang asal, tujuan dan penyebab si kecil merengek terus. Aku mendengarkan, sedikit seyum dan menimpali ucapannya. Sekarang si kecil asik memainkan sedotan.

Jarang aku bisa beramah tamah dengan orang yang tidak kukenal. Aku lebih senang naik taksi atau transportasi lain yang tidak perlu berdesakan bila tidak naik kendaraan pribadi. Aku memutuskan naik angkot hanya untuk merasakan suasana berbeda. Sesekali berkeringat dan berdesakan, melihat wajah-wajah yang tak kukenal dengan berbagai ekspresi dan kadang mendengar percakapan orang di sekelilingku tentang berbagai hal.

Wajah angkot telah berubah, sekarang sudah menggunakan kuda Jepang keluaran tahun 2000-an, tetapi tidak dengan karakter supirnya. Masih ugal-ugalan dan suka berhenti seenaknya. Biasanya aku paling sering mengumpat bila angkot di depanku tiba-tiba berhenti atau berjalan lambat untuk mencari menumpang di jalan satu jalur. Hari ini aku menikmati ulah supir yang tiba-tiba me-rem kendaraannya dan memasang lampu sign kiri setelah mendahului angkot lain yang menyebabkan penumpang di belakang hampir terjerembab dan memaki si supir. Dasar angkot!

March 29, 2007

Sandal oh sandal…

Filed under: Keseharian

Sandal adalah alas kaki sederhana yang multifungsi. Awalnya hanya berfungsi sebagai alas kaki agar terhindar dari kotoran, benda tajam yang bisa melukai dan suhu tempat berpijak. Tapi kini fungsinya berubah menjadi bagian dari fashion, trend dan gaya hidup. Tidak lagi sepotong karet sederhana yang diberi penjepit untuk jari, tetapi telah terbuat dari aneka bahan lain seperti kulit, kain atau plastik aneka warna, dibentuk sesuai trend mode dan dipakai ke berbagai kesempatan. Tidak lagi murah dan dengan seenaknya diletakkan di teras, tetapi telah menjadi barang mahal yang dibungkus kertas dan dikemas rapi dalam kotak dengan harga mencapai jutaan. Sandal menjadi bagian semua lapisan masyarakat, dari mulai pemulung sampai presiden.

Sekarang bentuk sandal yang sederhana telah berevolusi dan beradaptasi dengan perkembangan trend. Kaum wanita tidak lagi segan memakai sandal bertumit tinggi dengan hiasan manik, pita atau bermodel tali-temali ke suasana formal, baik ke kantor atau ke pesta. Sandal menjadi barang mahal yang bila dibuat oleh perancang terkenal harganya tak terjangkau dan menjadi benda yg collectible.

Sandal jepit karet, dengan bentuk paling sederhana, adalah benda favorit di kolong meja kerjaku. Selain berfungsi menyantaikan kaki yang lelah setelah seharian hilir mudik dengan high heels, juga menemani untuk mengambil air wudu’ di toilet. Tentu saja tidak nyaman jika harus mengenakan high heels pada waktu posisi kaki berada di kolong meja kerja, apalagi bila tanpa sengaja tumitnya tersangkut bagian bawah kursi dan lecet, yang sudah pasti akan menghilangkan estetikanya. Kadang benda murah yang multifungsi ini juga sering hilang dari kolong meja dan berpindah ke kolong rekan kerja lain tanpa permisi. Jika sudah begini, pemilik sandal pasti akan sibuk mencari-cari. Bukan masalah harga, tetapi masalah kepentingan. Masalah lain kalau kehilangan sandal jepit mungkin adalah kemalasan, malas pinjam punya teman dan malas mampir ke warung buat beli yang baru.

Sandal oh sandal…

 


 


 

March 20, 2007

Sekeping Cerita di Ujung Senja

Filed under: Keseharian

Sekeping cerita ringan tentang hari yang berlalu, sambil menikmati secangkir kopi panas dan pisang goreng. Memandang keping terakhir senja dari balik jendela kaca pencakar langit sebelum ia hilang dalam pelukan dewi malam. Kehidupan metropolis telah membiarkan senja berlalu dalam kesibukan dan tak lagi tau kemana harus mencari cahaya kunang-kunang di antara silau lampu jalanan dan seliweran kendaraan. 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M