Pisang Goreng
Pisang yang dibalut adonan tepung beras, digoreng dan disajikan panas-panas adalah hidangan yang pas untuk menemani minum kopi atau teh di sore hari. Aromanya menggugah selera, apalagi dinikmati sambil ngobrol di teras bersama keluarga atau teman. Hidangan sederhana, murah dan nikmat ini sangat gampang dibuat atau dibeli dari penjual di pinggir jalan dengan harga terjangkau. Meski sekarang rasanya bervariasi dengan tambahan coklat, keju atau mentega, yang tradisional dengan adonan tepung beras yang diberi sedikit garam tetap paling diminati.
Kemarin sajian khas kegemaran keluarga ini diganti dengan hidangan bule selera Indonesia, macaroni schotel. Pasta yang dipadu dengan daging, susu, keju, telur, jamur dan bumbu-bumbu, dipanggang dalam oven dan disajikan panas-panas dengan sambal botolan…khas Indonesia. Rasanya memang kurang pas bila tanpa sambal, malah kadang digantikan dengan cabe rawit utuh yang tentu saja membuat penikmatnya semakin hot karena kepedasan. Dari segi harga, pisang goreng jelas kalah bersaing dengan makanan bule, tapi dari segi penggemar, jarang ditemui orang Indonesia yang tidak suka makan pisang goreng, tapi banyak yang tidak suka makanan bule dengan campuran susu atau keju, mamaku salah satunya.
Sekali waktu aku pulang kerja membawa seloyang pizza. Mama memandang ngeri saat kami mengambil potongan pizza dengan keju meleleh dan menyantapnya dengan nikmat (tentu saja dengan tambahan sambal botolan). Jadi aku lebih memilih membawakan pisang goreng saat pulang kerja, yang dikemas dalam plastik kresek berlapis daun pisang atau terkadang kotak murahan dengan tulisan "selamat menikmati" di bagian tutupnya.
Sore ini, kenikmatan pisang goreng disajikan dengan secangkir teh panas yang berasal dari seduhan daun teh dan racikan bunga melati, bukan teh celup dalam kemasan sachet atau teh instan yang belakangan banyak beredar di pasaran. Benar-benar nikmat untuk mengakhiri hari yang melelahkan.

