Suatu Sore di Angkutan Kota
Sore ini aku menikmati fasilitas umum yang sudah jarang aku gunakan. Angkot di kotaku tidak berbeda dengan angkot di kota-kota lain di negara tercinta ini, padat, panas, berdesakan, bisa berhenti dimanapun sesuai permintaan penumpang plus jago menyalip dan kebut-kebutan tanpa peduli penumpang di belakang terpental kesana-kemari.
Jika biasanya pandangan orang dalam angkot menembus ke kaca mobilku dan melihatku duduk santai sambil menikmati musik di mobil yang nyaman ber-ac, kini aku yang memandang nelangsa ke arah kaca gelap mobil-mobil pribadi di sekelilingku. Betapa nyamannya jika saat ini kuda Jepang itu tidak sedang parkir di bengkel. Apapun keadaannya, sore yang cerah ini, aku duduk manis di dalam angkot, di sebelah ibu muda dengan balitanya yang menangis kepanasan dan di seberang bapak tua yang terkantuk-kantuk kelelahan sambil mendekap erat tas lusuh di pelukannya.
Persiapan sudah lengkap di tas kerjaku, tissue, sebotol air minum kemasan, permen pedas dan beberapa lembar pecahan seribu. Kuberikan botol air minum kepada ibu muda yang balitanya tak henti menangis. Si kecil menyedot perlahan isi botol dan mulai kelihatan tenang. Kuperkirakan umurnya tak lebih dari dua tahun. Ibunya yang berkeringat tersenyum padaku, berterima kasih dan memulai percakapan ringan menanyakan tujuan dan menceritakan sedikit story tentang asal, tujuan dan penyebab si kecil merengek terus. Aku mendengarkan, sedikit seyum dan menimpali ucapannya. Sekarang si kecil asik memainkan sedotan.
Jarang aku bisa beramah tamah dengan orang yang tidak kukenal. Aku lebih senang naik taksi atau transportasi lain yang tidak perlu berdesakan bila tidak naik kendaraan pribadi. Aku memutuskan naik angkot hanya untuk merasakan suasana berbeda. Sesekali berkeringat dan berdesakan, melihat wajah-wajah yang tak kukenal dengan berbagai ekspresi dan kadang mendengar percakapan orang di sekelilingku tentang berbagai hal.
Wajah angkot telah berubah, sekarang sudah menggunakan kuda Jepang keluaran tahun 2000-an, tetapi tidak dengan karakter supirnya. Masih ugal-ugalan dan suka berhenti seenaknya. Biasanya aku paling sering mengumpat bila angkot di depanku tiba-tiba berhenti atau berjalan lambat untuk mencari menumpang di jalan satu jalur. Hari ini aku menikmati ulah supir yang tiba-tiba me-rem kendaraannya dan memasang lampu sign kiri setelah mendahului angkot lain yang menyebabkan penumpang di belakang hampir terjerembab dan memaki si supir. Dasar angkot!

mau kasih comment ah.. pengemudi2 angkot rupanya memang perlu diberi “pelajaran”, pelajaran komputer, menjahit, mengetik, pramuka, tali menali dan menyulam. Lho apa hubungannya
salam kenal mbak yanti
Comment by hanafi — March 30, 2007 @ 7:24 am
salam kenal juga hanafi…
Comment by yantee — April 2, 2007 @ 5:47 am
I like this post….
Comment by Zizy — May 9, 2007 @ 5:09 am
Mbak….Yanti yang Imut yang Cantik Yang Manis Yang Segala Yang…..Dimana Sich…..!! Lokasi Photo Ini…..? Perasaan Enggak Pernah Dech…Ngeliat…..Lokasi Ini Atau Karena…. Udah Lama Ninggalin Mdn Kali….Yach……Salam Ya….Buat Teman-teman semua……..By…By…..
Comment by supristiadi — August 2, 2007 @ 5:32 am