Toleransi, Sebatas Mana?

Kita semua tau bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan, meski sebagian orang mengatakan tidak bisa hidup tanpa rokok. Bagi seorang perokok, dilarang merokok adalah suatu siksaan. Kebalikan bagi orang yang tidak merokok, menghirup asap rokok juga merupakan suatu siksaan. Dan pada kenyataannya, perokok pasif juga berpeluang menanggung penyakit dari asap rokok yang terhirup dari lingkungan sekitarnya.
Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Peringatan tentang racun ini bahkan tercetak (meski dengan huruf super mungil) di kemasan rokok “Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.”
Seorang teman mengatakan begini : “Manusia adalah orang yang paling bodoh di muka bumi ini, karena hanya manusia satu-satunya makhluk yang dengan sengaja memasukkan racun dalam tubuhnya, makhluk lain tidak akan melakukan hal itu. Mungkin bukan hanya bodoh, tapi juga kejam, karena secara perlahan juga membunuh spesiesnya yang lain…!”
Beberapa teman saya sudah berhenti menjadi budak nikotin. Sebagian besar berhenti karena dokter memberikan bukti yang mengerikan, lengkap dengan foto rontgen, hasil pindaian komputer, dan laporan laboratorium. Ada juga yang mulai mengurangi rokok, dalam arti di rumah tidak berani merokok karena anak-anaknya memusuhi. Larangan anak lebih efektif ketimbang istri. Ancaman anak untuk ikutan jadi perokok kalau bapaknya tak mau stop lebih manjur daripada ancaman istri untuk minta cerai.
Saya tak akan berpanjang-panjang soal bahaya, tepatnya keburukan dan kejahatan merokok. Anda, terutama yang antirokok, punya sejumlah alasan. Sedangkan Anda yang pro punya segudang dalih.
Tapi bila kegiatan isap-kepul asap ini dilakukan di tempat yang merupakan fasilitas umum, tentunya akan mengganggu kenyamanan orang lain, Apalagi fasilitas kantor yang umumnya berada di balik dinding tebal tanpa jendela dan hanya mengandalkan pendingin ruangan dan penghisap asap.
Kenyataan yang terjadi, sebagian rekan yang notabene berpendidikan tinggi dan sangat faham etika justru tidak memahami fungsi dari fasilitas umum yang disediakan di kantor. Merokok seenaknya di pantry pada pagi hari di saat rekan lain sarapan atau mengambil air minum. Masih bisa ditolerir bila waktu merokok hanya sampai pukul 08.30 (waktu tersebut merupakan batasan yang diberikan perusahaan bagi karyawan untuk mulai produktif), Tapi kenyataannya waktu bisa molor sampai jam 09.30. Sementara penghisap asap terus bekerja dari mulai pukul 07.30 sampai pukul 11.00 untuk menghisap sisa-sisa asap agar tidak menyesakkan dada.
Apakah hal ini masih bias ditolerir? Sebagian yang bukan perokok sangat toleran, berusaha menahan nafas dan secepatnya keluar dari pantry setelah mengambil apa yang dibutuhkan, sebagian lagi menahan diri hingga rombongan isap-kepul asap bubar. Lantas bagaiman dengan rekan wanita yang sedang hamil, apakah mereka juga harus menghirup asap beracun dari para perokok tersebut? Lantas dimana letak toleransi si perokok terhadap rekan-rekannya yang tidak merokok?
Sebagai orang yang (mengaku) berbudaya yang memahami etika dengan sangat baik, alangkah baiknya juga jika dapat saling bertoleransi dan menggunakan fasilitas (termasuk batasan jam produktif) yang diberikan perusahaan dengan lebih bijak.
Sebagian materi diambil dari blognya Paman Tyo tanpa ijin (nuwun sewu Paman…)
Sebagian adalah pendapatnya Elzy
