Sekeping Cerita di Ujung Senja

April 19, 2007

Toleransi, Sebatas Mana?

Filed under: Keseharian


Kita semua tau bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan, meski sebagian orang mengatakan tidak bisa hidup tanpa rokok. Bagi seorang perokok, dilarang merokok adalah suatu siksaan. Kebalikan bagi orang yang tidak merokok, menghirup asap rokok juga merupakan suatu siksaan. Dan pada kenyataannya, perokok pasif juga berpeluang menanggung penyakit dari asap rokok yang terhirup dari lingkungan sekitarnya.

Rokok mengandung kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Peringatan tentang racun ini bahkan tercetak (meski dengan huruf super mungil) di kemasan rokok “Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.”

Seorang teman mengatakan begini : “Manusia adalah orang yang paling bodoh di muka bumi ini, karena hanya manusia satu-satunya makhluk yang dengan sengaja memasukkan racun dalam tubuhnya, makhluk lain tidak akan melakukan hal itu. Mungkin bukan hanya bodoh, tapi juga kejam, karena secara perlahan juga membunuh spesiesnya yang lain…!”

Beberapa teman saya sudah berhenti menjadi budak nikotin. Sebagian besar berhenti karena dokter memberikan bukti yang mengerikan, lengkap dengan foto rontgen, hasil pindaian komputer, dan laporan laboratorium. Ada juga yang mulai mengurangi rokok, dalam arti di rumah tidak berani merokok karena anak-anaknya memusuhi. Larangan anak lebih efektif ketimbang istri. Ancaman anak untuk ikutan jadi perokok kalau bapaknya tak mau stop lebih manjur daripada ancaman istri untuk minta cerai.

Saya tak akan berpanjang-panjang soal bahaya, tepatnya keburukan dan kejahatan merokok. Anda, terutama yang antirokok, punya sejumlah alasan. Sedangkan Anda yang pro punya segudang dalih.

Tapi bila kegiatan isap-kepul asap ini dilakukan di tempat yang merupakan fasilitas umum, tentunya akan mengganggu kenyamanan orang lain, Apalagi fasilitas kantor yang umumnya berada di balik dinding tebal tanpa jendela dan hanya mengandalkan pendingin ruangan dan penghisap asap.

Kenyataan yang terjadi, sebagian rekan yang notabene berpendidikan tinggi dan sangat faham etika justru tidak memahami fungsi dari fasilitas umum yang disediakan di kantor. Merokok seenaknya di pantry pada pagi hari di saat rekan lain sarapan atau mengambil air minum. Masih bisa ditolerir bila waktu merokok hanya sampai pukul 08.30 (waktu tersebut merupakan batasan yang diberikan perusahaan bagi karyawan untuk mulai produktif), Tapi kenyataannya waktu bisa molor sampai jam 09.30. Sementara penghisap asap terus bekerja dari mulai pukul 07.30 sampai pukul 11.00 untuk menghisap sisa-sisa asap agar tidak menyesakkan dada.

Apakah hal ini masih bias ditolerir? Sebagian yang bukan perokok sangat toleran, berusaha menahan nafas dan secepatnya keluar dari pantry setelah mengambil apa yang dibutuhkan, sebagian lagi menahan diri hingga rombongan isap-kepul asap bubar. Lantas bagaiman dengan rekan wanita yang sedang hamil, apakah mereka juga harus menghirup asap beracun dari para perokok tersebut? Lantas dimana letak toleransi si perokok terhadap rekan-rekannya yang tidak merokok?

Sebagai orang yang (mengaku) berbudaya yang memahami etika dengan sangat baik, alangkah baiknya juga jika dapat saling bertoleransi dan menggunakan fasilitas (termasuk batasan jam produktif) yang diberikan perusahaan dengan lebih bijak.

Sebagian materi diambil dari blognya Paman Tyo tanpa ijin (nuwun sewu Paman…)
Sebagian adalah pendapatnya
Elzy


April 16, 2007

Ayam

Filed under: Keseharian

Ayam adalah hewan yang sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Dipelihara sebagai sumber pangan hewani maupun sebagai hewan peliharaan. Harganya pun bervariasi sesuai peranannya, dari mulai ribuan hingga jutaan rupiah. Ayam sebagai hewan konsumsi bisa diperoleh hampir di semua tempat, pasar tradisional, supermarket sampai restoran cepat saji. Tetapi sebagai hewan peliharaan, tidak semua pet shop menyediakan species ini sebagai klangenan, hanya hobiis yang memeliharanya. Jenisnya pun beraneka, dari mulai ayam petarung yang besar dan gagah perkasa sampai ayam serama yang mungil dan lucu.

Tetanggaku memelihara beberapa ekor ayam kampung untuk dikonsumsi. Sebagaimana layaknya ayam kampung yang tinggal di perkampungan, ayam-ayamnya pun merasa berhak masuk ke halaman orang lain tanpa permisi, bahkan kadang meningggalkan kotoran di teras. Kemarin sore, seekor ayam terlambat pulang dan nyasar ke rumahku. Si ayam kebingungan saat kami mengusir dan berusaha menagkapnya. Ia pun berkeok-keok sambil terbang dan hinggap di sembarang tempat, dari mulai meja, pindah ke kursi, terbang lagi ke atas mesin jahit sebelum akhirnya hinggap di atas lemari.

Keributan sedang berlangsung seru, diiringi teriakan hus…hus…dari mama yang mengacung-acungkan sapu serta adikku yang ngomel sambil mengutipi benda-benda yang berhasil dijatuhkan si ayam (plus membersihkan kotoran ayam yang jatuh di lantai). Keributan terhenti ketika suamiku datang. Dengan santainya dia mematikan lampu ruangan dan si ayam pun langsung terdiam. Kami lupa bahwa ayam tidak dapat melihat bila senja mulai turun. Dalam keadaan buta, si ayam dengan mudah ditangkap dan dikembalikan ke pemiliknya.

April 3, 2007

Hujan

Filed under: Keseharian

Setelah sekian lama tidak turun hujan, sore kemarin hujan mengguyur deras lengkap dengan petir, kilat dan angin kencang. Jemuran yang lupa dijepit berhamburan, aku pontang panting mengutipi baju-baju yang jatuh sambil memegang payung. Petir yang terus menyambar membuatku harus merasa puas menghabiskan waktu dengan mengisi TTS, tanpa televisi. Untungnya listrik tidak ikut dipadamkan, sehingga ruangan di rumah jadi terang, meski di luar gelap karena mendung.

Aroma tanah dan rumput basah menguar memenuhi udara dingin, membuatku malas beranjak untuk mandi. Air hujan yang jatuh dari genting membasahi daun-daun mawar di depan jendela. Rantingnya yang tinggi merunduk, berat menahan tetesan yang memenuhi kelopak merah jambunya.

Hujan selalu membawa kesejukan, menyegarkan tanaman yang meranggas karena kemarau dan  membasahi tanah kering hingga debu tak lagi menyumbat pernafasan. Rinai air yang jatuh membuat genangan-genangan kecil kecoklatan di pinggir jalan. Kadang-kadang hujan juga menyisakan semburat warna pelangi di langit. Tetapi tidak sore ini karena ketika hujan berhenti, hari sudah beranjak gelap, meninggalkan aspal basah yang berkilauan ditimpa cahaya lampu jalan.

 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M