Balon
Kemarin dua bocah kecil saya minta balon yang dijajakan penjual keliling. Bentuknya sederhana, tidak banyak berubah sejak saya balita. Balon besar dengan pegangan balon kecil yang diberi peluit bambu di dalamnya sehingga berbunyi "tet tet tet" kalu dipencet plus hiasan balon panjang beda warna yang dipelintir-pelintir di bagian atasnya. Yang berubah hanya tangkainya, kalau dulu terbuat dari lidi, sekarang sudah diganti plastik menyerupai sedotan panjang. Ketika kedua bocah itu mulai bosan, iseng saya memainkan balon…tet…tet…tet…jadi geli sendiri. Ingat masa kecil ketika semuanya begitu indah dan menyenangkan. Secara generasi yang lahir di era tujuh puluhan, tentunya tidak banyak jenis mainan yang bisa dibeli sewaktu saya kanak-kanak. Kardus bekas bohlam Philips (saya ingat betul dulu kardusnya bergelombang dengan garis-garis biru putih dan tulisan hitam) dapat dijadikan mobil-mobilan dan dua kaleng bekas susu yang dilubangi dan dipasangi benang wool dijadikan telepon. Jadi "balon berbunyi" itu merupakan mainan mewah yang baru bisa saya dapat kalau diajak orang tua ke Taman Ria.
Besoknya di kantor ketika iseng browsing, saya menemukan situs ini, isinya sangat cukup untuk memuaskan dahaga atas berbagai kenangan yang pernah menghiasi masa kecil dan remaja saya. Jadi senyum sendiri waktu bernostalgia tentang masa kecil dan remaja dulu. Betapapun konyol dan noraknya, sekarang justru saya rindu dengan masa-masa itu. Masa dimana saluran TV hanya satu (TVRI), tanpa jeda komersial dan tayangan gosip serta radio yang wira-wiri di jalur AM dengan lagu-lagu pop ala Pance, dangdut ala Rhoma dan sandiwara radio yang disponsori produsen obat panu. Bagi saya itu adalah "my golden years" yang membuat masa kecil dan remaja saya begitu berwarna.
