Sensitif vs Cengeng
Nonton film, ceritanya mengharukan, nangis…denger lagu, liriknya mengena, nangis…mantan pacar mengirim undangan pernikahan, sementara diri sendiri tetap keukeuh menjomblo (berharap sang mantan kembali), nangis…Itu sensitif atau cengeng ya?
Menurut saya, kalau gampang terharu dan meneteskan air mata, menyukai hal-hal romantis, itu artinya sensitif dan berperasaan halus (tapi bukan makhluk halus). Bahkan dalam sukacita pun kita bisa menangis haru. Selama dilakukan dengan langkah positif, dalam artian tidak merugikan orang lain, misalnya nangis sampai guling-guling di lantai sambil menjerit dan berteriak- it’s okay!
Dan cengeng itu menurut saya adalah orang yang tidak bisa berlapang dada menghadapi cobaan, tidak bisa menerima kenyataan, emosi meninggi dan meradang kalau dikritik, apalagi kalau tersinggung atau disakiti, gampang putus asa dan ingin bunuh diri (bagi saya seburuk-buruknya hidup, hidup tetap lebih baik daripada mati)- itulah cengeng!
Tidak ada yang lucu bila keluarga atau teman kita menangis terharu, bahkan sangat tidak patut bila teman yang sedang tertimpa musibah, curhat sambil menangis, dianggap cengeng. Itu manusiawi menurut saya. Setiap manusia pasti punya perasaan atau nurani (qolbu), yang akan tergugah bila disakiti, kehilangan, disentuh (dinasehati) bahkan bila terlalu bahagia. Dan nuranilah yang bisa mengendalikan sifat-sifat jahat yang ada dalam diri setiap manusia, dalam arti bila tidak ingin disakiti, maka jangan sakiti orang lain. Dan sensitivitas tidak memandang gender!
Jadi sangat tidak adil bila menyamakan orang yang sensitif dengan orang yang cengeng. Orang cengeng tidak berani menghadapi kenyataan, merasa diri lemah tak berdaya, pasrah teraniaya tanpa berusaha untuk bangkit. Tapi bukan berarti terlalu sensitif itu bagus, ada porsinya lah…ibarat petunjuk dalam kemasan obat : digunakan sesuai dosis. Karena sensitivitas yang yang kelewat tinggi membuat orang ngeri untuk mendekat, bicara, apalagi memberi kritik dan masukan…takut tersinggung!
Ada pertanyaan aneh pada ulang tahun saya kali ini. Benarkah bertambahnya usia terkait dengan perubahan selera? Kalau saya suka mendengarkan Lite FM yang berspesialisasi lagu-lagu oldies, bukan karena usia, tetapi saya memang menyukainya. Saya suka lagu-lagu oldies terlebih karena iramanya yang enak didengar dan liriknya yang puitis. Malah sebagian besar lagu-lagu tersebut sudah didaur ulang dan jadi hits di kalangan remaja. Saya juga menikmati lagu-lagu baru, dari lagu bule berirama hip hop sampai band lokal yang belakangan bermunculan bak jamur di musim hujan. Kalau masalah lagu-lagu rock (atau metal?) yang iramanya berisik itu, bukan berarti saya jadi tua kalau tak bisa menikmatinya, tetapi memang dari remaja dulu saya tidak bisa menikmati irama yang hingar bingar seperti itu. 