Sekeping Cerita di Ujung Senja

August 20, 2007

Sensitif vs Cengeng

Filed under: Keseharian

Nonton film, ceritanya mengharukan, nangis…denger lagu, liriknya mengena, nangis…mantan pacar mengirim undangan pernikahan, sementara diri sendiri tetap keukeuh menjomblo (berharap sang mantan kembali), nangis…Itu sensitif atau cengeng ya?

Menurut saya, kalau gampang terharu dan meneteskan air mata, menyukai hal-hal romantis, itu artinya sensitif dan berperasaan halus (tapi bukan makhluk halus). Bahkan dalam sukacita pun kita bisa menangis haru. Selama dilakukan dengan langkah positif, dalam artian tidak merugikan orang lain, misalnya nangis sampai guling-guling di lantai sambil menjerit dan berteriak- it’s okay!

Dan cengeng itu menurut saya adalah orang yang tidak bisa berlapang dada menghadapi cobaan,  tidak bisa menerima kenyataan, emosi meninggi dan meradang kalau dikritik, apalagi kalau tersinggung atau disakiti, gampang putus asa dan ingin bunuh diri (bagi saya seburuk-buruknya hidup, hidup tetap lebih baik daripada mati)- itulah cengeng!

Tidak ada yang lucu bila keluarga atau teman kita menangis terharu, bahkan sangat tidak patut bila teman yang sedang tertimpa musibah, curhat sambil menangis, dianggap cengeng. Itu manusiawi menurut saya. Setiap manusia pasti punya perasaan atau nurani (qolbu), yang akan tergugah bila disakiti, kehilangan, disentuh (dinasehati) bahkan bila terlalu bahagia. Dan nuranilah yang bisa mengendalikan sifat-sifat jahat yang ada dalam diri setiap manusia, dalam arti bila tidak ingin disakiti, maka jangan sakiti orang lain. Dan sensitivitas tidak memandang gender!

Jadi sangat tidak adil bila menyamakan orang yang sensitif dengan orang yang cengeng. Orang cengeng tidak berani menghadapi kenyataan, merasa diri lemah tak berdaya, pasrah teraniaya tanpa berusaha untuk bangkit. Tapi bukan berarti terlalu sensitif itu bagus, ada porsinya lah…ibarat petunjuk dalam kemasan obat : digunakan sesuai dosis. Karena sensitivitas yang yang kelewat tinggi membuat orang ngeri untuk mendekat, bicara, apalagi memberi kritik dan masukan…takut tersinggung!emoticon

August 2, 2007

Tambah Usia, Ganti Selera?

Filed under: Keseharian

Ada pertanyaan aneh pada ulang tahun saya kali ini. Benarkah bertambahnya usia terkait dengan perubahan selera? Kalau saya suka mendengarkan Lite FM yang berspesialisasi lagu-lagu oldies, bukan karena usia, tetapi saya memang menyukainya. Saya suka lagu-lagu oldies terlebih karena iramanya yang enak didengar dan liriknya yang puitis. Malah sebagian besar lagu-lagu tersebut sudah didaur ulang dan jadi hits di kalangan remaja. Saya juga menikmati lagu-lagu baru, dari lagu bule berirama hip hop sampai band lokal yang belakangan bermunculan bak jamur di musim hujan. Kalau masalah lagu-lagu rock (atau metal?) yang iramanya berisik itu, bukan berarti saya jadi tua kalau tak bisa menikmatinya, tetapi memang dari remaja dulu saya tidak bisa menikmati irama yang hingar bingar seperti itu.

Bila orang-orang membicarakan masalah sinetron dan gosip tentang para artisnya, saya seolah mendadak jadi tua, kuper dan old banget kalau tidak kenal artis sinetron si X atau si Y yang menikah dengan lelaki beristri (halah!) secara saya memang tidak suka nonton sinetron. Tetapi sebenarnya saya tidak demikian, karena menurut saya mutu sinetron Indonesia makin lama makin menurun dan hanya layak ditonton oleh cumi-cumi (ini istilah salah satu teman saya, yang menyebut dirinya sinetron-hater). Mungkin memang sangat ketinggalan jaman kalau saya lebih suka film-film seri lawas seperti Hunter, Chips, serial Losmen atau Rumah Masa Depan. Tetapi saya juga penonton setia serial Ally McBeal, Desperate Housewives, Commander in Chief atau Jewel in the Palace (Korea).

Saya rasa usia dan selera tidak ada hubungannya. Apalagi selera yang dimaksud hanya sebatas kenikmatan hiburan dalam skala kecil, radio dan televisi. Toh, penyanyi idola masa remaja saya, Anggun, sekarang makin digemari karena merilis ulang lagu-lagu lamanya. Dan film seri Dukes of Hazard dibuat versi layar lebarnya dan masuk Box Office.

Saya tidak kenal para selebritis (pemain sinetron) yang selalu membuat sensasi, bukan berarti saya jadi tua dan kampungan. Saya tetap berpenampilan normal, tidak pakai kebaya seperti mbok jamu (sekarang pun mbok jamu sudah tak berkebaya lagi!), tidak makan sirih dan mengunyah tembakau sambil duduk di kursi goyang menikmati lagu keroncong. Saya berbusana normal sesuai panduan majalah wanita terkini, nongkrong di kedai kopi modern ala Starbucks atau Kopi Tiam serta menikmati jazz, Norah Jones, Tompi dan Jamie Cullum. So?

Usia bertambah tidak berarti selera berubah jadi tua kan? Tua itu alamiah, dewasa itu relatif. Bertambah usia itu fitrah, apresiasi akan seni itu selera, gaptek, kurang membaca, ga nyambung…itu baru masalah!

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M