Tambah Usia, Ganti Selera?
Ada pertanyaan aneh pada ulang tahun saya kali ini. Benarkah bertambahnya usia terkait dengan perubahan selera? Kalau saya suka mendengarkan Lite FM yang berspesialisasi lagu-lagu oldies, bukan karena usia, tetapi saya memang menyukainya. Saya suka lagu-lagu oldies terlebih karena iramanya yang enak didengar dan liriknya yang puitis. Malah sebagian besar lagu-lagu tersebut sudah didaur ulang dan jadi hits di kalangan remaja. Saya juga menikmati lagu-lagu baru, dari lagu bule berirama hip hop sampai band lokal yang belakangan bermunculan bak jamur di musim hujan. Kalau masalah lagu-lagu rock (atau metal?) yang iramanya berisik itu, bukan berarti saya jadi tua kalau tak bisa menikmatinya, tetapi memang dari remaja dulu saya tidak bisa menikmati irama yang hingar bingar seperti itu.
Bila orang-orang membicarakan masalah sinetron dan gosip tentang para artisnya, saya seolah mendadak jadi tua, kuper dan old banget kalau tidak kenal artis sinetron si X atau si Y yang menikah dengan lelaki beristri (halah!) secara saya memang tidak suka nonton sinetron. Tetapi sebenarnya saya tidak demikian, karena menurut saya mutu sinetron Indonesia makin lama makin menurun dan hanya layak ditonton oleh cumi-cumi (ini istilah salah satu teman saya, yang menyebut dirinya sinetron-hater). Mungkin memang sangat ketinggalan jaman kalau saya lebih suka film-film seri lawas seperti Hunter, Chips, serial Losmen atau Rumah Masa Depan. Tetapi saya juga penonton setia serial Ally McBeal, Desperate Housewives, Commander in Chief atau Jewel in the Palace (Korea).
Saya rasa usia dan selera tidak ada hubungannya. Apalagi selera yang dimaksud hanya sebatas kenikmatan hiburan dalam skala kecil, radio dan televisi. Toh, penyanyi idola masa remaja saya, Anggun, sekarang makin digemari karena merilis ulang lagu-lagu lamanya. Dan film seri Dukes of Hazard dibuat versi layar lebarnya dan masuk Box Office.
Saya tidak kenal para selebritis (pemain sinetron) yang selalu membuat sensasi, bukan berarti saya jadi tua dan kampungan. Saya tetap berpenampilan normal, tidak pakai kebaya seperti mbok jamu (sekarang pun mbok jamu sudah tak berkebaya lagi!), tidak makan sirih dan mengunyah tembakau sambil duduk di kursi goyang menikmati lagu keroncong. Saya berbusana normal sesuai panduan majalah wanita terkini, nongkrong di kedai kopi modern ala Starbucks atau Kopi Tiam serta menikmati jazz, Norah Jones, Tompi dan Jamie Cullum. So?
Usia bertambah tidak berarti selera berubah jadi tua kan? Tua itu alamiah, dewasa itu relatif. Bertambah usia itu fitrah, apresiasi akan seni itu selera, gaptek, kurang membaca, ga nyambung…itu baru masalah!

i agree with u.
bertambah usia justru hrsnya dikaitkan dgn btambahnya kedewasaan dan kematangan kita, bkn soal selera.. And aq jg setuju bahwa kualitas sinetron/film jaman dulu lbh bagus dr yg sekarang. jaman sekrang trlalu banyak copycat.
Comment by Zizy — August 2, 2007 @ 6:01 am
Tambah Usia ganti Selera….?
Selera Yang mana Satu Nich…………!!!!!!
Comment by supristiadi — August 2, 2007 @ 6:26 am
Met ultah ya kak….:)
Comment by Nanda — August 2, 2007 @ 8:48 am
bang supris kan dah tau seleraku…nasi padang pake kepala ikan kakap gule…
Comment by yantisadli — August 8, 2007 @ 2:13 am
setuju banget-banget dengan pernyataannya kematangan tidak semata-mata di ukur dengan selera…
salam kenal ya….
Comment by herdie — August 8, 2007 @ 11:32 am
salam kenal aja ya…
Comment by herdie — August 8, 2007 @ 11:34 am
salam kenal kembali herdie…
Comment by yantisadli — August 10, 2007 @ 6:47 am