Sekeping Cerita di Ujung Senja

November 28, 2007

Bayi Mungil Bernama Melisa

Filed under: Keseharian

Sepasang mata bening itu menatap saya lekat. Bibir mungilnya bergumam seperti hendak mengatakan sesuatu. Sebelah tangannya mencoba menggapai dan sepasang kaki mungilnya meronta di balik gendongan. Dia tidak menangis meski saya ingin menangis melihat keadaannya. Di usianya yang masih enam bulan, ia telah mengalami siksaan pedih dari orang tua angkatnya. Bayi mungil itu bernama Melisa. Nasibnya tak seindah namanya. Kedua orang tuanya yang kurang mampu merelakan Melisa kecil diadopsi oleh sepasang suami istri yang akhirnya justru menyiksanya dengan keji. Tubuhnya penuh lebam dan wajahnya hancur akibat luka bakar sundutan rokok. Bahkan ia telah kehilangan setengah hidungnya hingga kesulitan bernafas. Astagfirullah…terbuat dari apa hati mereka hingga tega menyiksa Melisa yang begitu mungil jadi seperti ini?

Bagi rekan-rekan Medan yang ingin membantu, dapat langsung mengunjungi Melisa di RSU Pirngadi Medan (gedung lama) ruang Eks Personalia Lt. 2 (masuk dari belakang, Jl. Perintis Kemerdekaan). Sampai saat ini ibu kandungnya tidak tahu siapa yang akan membantu biaya pengobatan Melisa meski surat keterangan miskin sudah diurus. Berikut potongan berita dari detik.com 

*Saya mengekspos kasus ini tanpa kepentingan apapun, hanya ingin mengetuk hari rekan-rekan yang mungkin memiliki rezeki berlebih untuk membantu dan saya tidak melampirkan foto Melisa disini karena tidak ingin terjadi salah persepsi* 

November 21, 2007

Maling

Filed under: Keseharian

Saya tinggal di sebuah komplek perumahan yang tidak terlalu ramai penghuninya. Setiap pagi sebelum jam 07.00 saya, suami dan anak-anak sudah keluar. Pulang kerja, kami mengambil anak-anak yang dititipkan di rumah mama sepulang dari sekolah, karena kami tidak punya pembantu untuk menjaga rumah. Kami baru pulang ke rumah setelah makan malam, biasanya sekitar jam 20.00 bahkan kadang lewat. Untungnya komplek perumahan yang kami tinggali termasuk aman. Meski rumah saya tidak berpagar dengan jendela dan lubang angin besar yang selalu terbuka untuk sirkulasi udara (memakai teralis tentunya), tak sekalipun saya pernah kemalingan, baik sepatu atau sandal yang ditinggal di teras maupun peralatan berkebun dan koleksi tanaman hias yang ngga seberapa kata orang Medan :)

Pagi tadi ketika melewati Pos Satpam, kami melihat keramaian orang mengerumuni seorang pria muda yang terduduk tak berdaya. Suami saya bertanya pada Pak Satpam dan beliau menjelaskan bahwa pria tersebut tertangkap tadi malam saat ketahuan mencuri. Rumah yang menjadi sasarannya adalah pengusaha kerupuk yang berlokasi di samping pintu masuk komplek. Kami tidak bertanya lebih lanjut, karena khawatir terlambat mengantar anak-anak ke sekolah.

Ketika mobil berjalan lambat, aku melihat dua ekor anjing kampung besar milik salah seorang tetangga di luar komplek terkapar di aspal. Kelihatannya mati dibunuh. Mungkin oleh si maling. Kasihan sekali, meski bertampang sangar, kedua anjing tersebut tidak pernah mengganggu, membuat keributan, pup sembarangan atau menggigit. Beberapa kali kulihat anjing-anjing tersebut melintas di depan rumah, sesekali mengais sampah atau menghabiskan sisa makanan kucing-kucing peliharaan kami.

Hari ini kepala saya dipenuhi bayangan kejadian tadi pagi dan tak sabar pulang ke rumah untuk mendengar kelanjutan cerita.

November 20, 2007

Souvenir

Filed under: Keseharian

Souvenir atau supenir atau cinderamata adalah hal yang biasa diberikan oleh si empunya hajat sebagai ucapan terima kasih atas kehadiran para tetamu dalam pesta, baik penikahan, sunatan atau pesta lainnya. Kadang diberikan dengan senyum manis dari ’si mbak penjaga buku tamu + kotak angpao’, kadang juga diberikan dengan wajah jutek dari si mbak yang menelusupkan tangannya ke balik taplak meja (karena takut tamunya minta souvenir lebih dari satu). 

Setiap pulang pesta, tas tangan saya pasti berisi souvenir, dari mulai yang biasa sampai yang unik. Apalagi kalau tiba ‘musim kawin hajatan’ yang biasanya jatuh di bulan haji, dalam sehari di akhir pekan saya bisa menghadiri sampai enam pesta. Souvenir yang unik dan cantik sering saya manfaatkan, semisal frame foto, pajangan atau kipas. Tetapi sebagian besar justru memenuhi kantong-kantong di penutup kulkas.

Hari minggu kemarin, saya berniat mencuci penutup kulkas yang mulai berubah warna. Saya mengeluarkan seluruh isi kantong- kantong yang terdapat di sisi kiri dan kanannya. Dan inilah souvenir yang berhasil saya kumpulkan : 1 pembuka botol, 4 hiasan kulkas (yg juga berfungsi sebagai pembuka botol), 3 penjepit kuku, 5 gantungan kunci aneka bentuk, 4 kipas, 2 tasbih, 3 gantungan HP dan 6 lilin hias…*dilarang keras mengalikan jumlah souvenir dengan uang angpao yang sudah diberikan*

Saya jadi membayangkan omset para pengrajin souvenir tersebut dan berapa banyak benda-benda kecil tersebut yang akhirnya terbuang sia-sia. Saya jadi berfikir mengapa souvenir itu tidak diganti saja dengan yang lebih bermanfaat seperti bingkisan yang diberikan pada ulang tahun anak-anak. Sebuah kipas diganti dengan coklat Ferrero Rocher misalnya, atau gantungan kunci diganti permen menthol, mungkin tidak akan terbuang atau sekedar jadi mainan anak-anak.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M