Bayi Mungil Bernama Melisa
Sepasang mata bening itu menatap saya lekat. Bibir mungilnya bergumam seperti hendak mengatakan sesuatu. Sebelah tangannya mencoba menggapai dan sepasang kaki mungilnya meronta di balik gendongan. Dia tidak menangis meski saya ingin menangis melihat keadaannya. Di usianya yang masih enam bulan, ia telah mengalami siksaan pedih dari orang tua angkatnya. Bayi mungil itu bernama Melisa. Nasibnya tak seindah namanya. Kedua orang tuanya yang kurang mampu merelakan Melisa kecil diadopsi oleh sepasang suami istri yang akhirnya justru menyiksanya dengan keji. Tubuhnya penuh lebam dan wajahnya hancur akibat luka bakar sundutan rokok. Bahkan ia telah kehilangan setengah hidungnya hingga kesulitan bernafas. Astagfirullah…terbuat dari apa hati mereka hingga tega menyiksa Melisa yang begitu mungil jadi seperti ini?
Bagi rekan-rekan Medan yang ingin membantu, dapat langsung mengunjungi Melisa di RSU Pirngadi Medan (gedung lama) ruang Eks Personalia Lt. 2 (masuk dari belakang, Jl. Perintis Kemerdekaan). Sampai saat ini ibu kandungnya tidak tahu siapa yang akan membantu biaya pengobatan Melisa meski surat keterangan miskin sudah diurus. Berikut potongan berita dari detik.com
*Saya mengekspos kasus ini tanpa kepentingan apapun, hanya ingin mengetuk hari rekan-rekan yang mungkin memiliki rezeki berlebih untuk membantu dan saya tidak melampirkan foto Melisa disini karena tidak ingin terjadi salah persepsi*
Saya tinggal di sebuah komplek perumahan yang tidak terlalu ramai penghuninya. Setiap pagi sebelum jam 07.00 saya, suami dan anak-anak sudah keluar. Pulang kerja, kami mengambil anak-anak yang dititipkan di rumah mama sepulang dari sekolah, karena kami tidak punya pembantu untuk menjaga rumah. Kami baru pulang ke rumah setelah makan malam, biasanya sekitar jam 20.00 bahkan kadang lewat. Untungnya komplek perumahan yang kami tinggali termasuk aman. Meski rumah saya tidak berpagar dengan jendela dan lubang angin besar yang selalu terbuka untuk sirkulasi udara (memakai teralis tentunya), tak sekalipun saya pernah kemalingan, baik sepatu atau sandal yang ditinggal di teras maupun peralatan berkebun dan koleksi tanaman hias yang ngga seberapa kata orang Medan
Souvenir atau supenir atau cinderamata adalah hal yang biasa diberikan oleh si empunya hajat sebagai ucapan terima kasih atas kehadiran para tetamu dalam pesta, baik penikahan, sunatan atau pesta lainnya. Kadang diberikan dengan senyum manis dari ’si mbak penjaga buku tamu + kotak angpao’, kadang juga diberikan dengan wajah jutek dari si mbak yang menelusupkan tangannya ke balik taplak meja (karena takut tamunya minta souvenir lebih dari satu). 