Parkir
Minggu 30 Desember malam, saya beserta beberapa anggota keluarga pergi berbelanja ke Berastagi Supermarket di Jl. Gatot Subroto untuk persiapan rekreasi ke Pantai Cermin Theme Park esoknya. Parkiran supermarket penuh, saya menjalankan mobil perlahan sambil celingak-celinguk mencari tempat parkir. Seorang pria menuju Kijang yang parkir tidak jauh dari saya. Setelah mobil di depan saya melaju untuk menempati salah satu tempat kosong, saya memberi lampu sign dan meminggirkan mobil ke kiri agar antrian di belakang saya bisa mendahului. Lampu mundur Kijang menyala dan mulai bergerak perlahan. Dengan sabar saya menunggu mobil itu keluar. Tak disangka, begitu Kijang tersebut keluar, sebuah Honda Jazz di belakang saya langsung menyalip dan masuk ke space kosong itu. Saya mengklakson kuat sampai mengejutkan petugas parkir. Saya membuka kaca dan berhenti di belakangnya, ingin tau seperti apa tampang pengemudinya. Seorang perempuan muda berdaster keluar dari mobil dan melihat ke arah saya. Saya meletakkan telunjuk di kepala lalu menunjuk lutut saya. Itu bahasa tubuh yang artinya kira-kira begini, "Bu, sesekali biarkanlah otak ibu berada pada tempatnya, sehingga ia bisa melakukan fungsinya dengan baik. Jangan biarkan otak Anda kelamaan di dengkul, biarkanlah ia berpikir. Niscaya kalau Anda menggunakannya dengan benar, Anda akan lebih dihargai orang lain!"
Petugas parkir yang merasa bersalah karena membiarkan antrian saya dipotong, berusaha mencarikan tempat bagi saya. Setelah parkir saya mengambil troli besar, menaikkan si bungsu ke dalamnya dan mulai mendorong masuk ke supermarket. Saya berdiri di samping pendingin untuk memilih ayam ketika si perempuan berdaster singgah di tempat yang sama. Dengan kikuk dia melirik saya dan berbicara keras- keras ke rekannya yang saya yakin saat itu tidak memperhatikan. Dengan bengis saya memandangnya dari atas ke bawah. Perempuan itu memalingkan wajahnya ketika saya melirik sinis ke arah daster dan rambutnya yang awut-awutan, itu adalah bahasa tubuh yang artinya, "Penampilan sesuai kelakuan, berantakan!"
