Kleptomaniac

Kleptomaniac atau kleptomaniak atau klepto didefinisikan seperti ini menurut Wikipedia : People with this disorder are compelled to steal things, generally things of little or no value, such as pens, paper clips, tape, small toys, or packets of sugar. Some may not be aware that they have committed the theft until later.
Artinya kira-kira begini : Orang yang mengalami gangguan jiwa, sehingga suka mengutil barang-barang kecil yang kurang berharga.
Penderita gangguan ini cukup banyak dan saya adalah salah satu dengan level (bila dinilai dengan skala 1-5) sekitar 2. Awalnya pinjam, lalu lupa mengembalikan, atau lupa bilang kalau pinjam sesuatu dari meja orang lain yang pemiliknya sedang tidak ada di tempat dan sudah pasti lupa mengembalikan juga. Barang yang sudah dipinjam , bila berukuran besar seperti bolonger atau dispenser selotip, pasti dikembalikan. Tetapi bila barang tersebut berukuran kecil seperti pulpen atau tipex, pasti lupa dikembalikan (kecuali si pemilik ingat untuk memintanya). Pada beberapa kasus, saya juga menjadi korban kleptomaniak rekan kerja lain. Maka tidak heran jika alat tulis sampai mug di pantry tiba-tiba berganti pengguna tanpa seijin pemilik.
Hobi mengutil ini terutama saya praktekkan di hotel, apalagi hotel yang agak mewah dan prestisius. Yang saya ambil adalah pulpen atau pinsil yang memang disediakan bagi tamu hotel. Sekarang saya memiliki satu mug penuh pulpen dan pinsil hasil jarahan tersebut. Bukan untuk pamer bahwa saya pernah menginap di hotel X yang berbintang sekian, sebagian justru merupakan hasil klepto orang lain yang dihadiahkan ke saya dengan penuh rasa bangga.
Perkara kleptomaniak ini mengganggu saya ketika secara sadar saya tergoda untuk mengutil sendok garpu sebuah penerbangan domestik atas saran dua rekan saya yang duduk sebaris di pesawat (yang juga melakukan hal sama + wadah buah dan cangkir). Saya merasa mereka keterlaluan, meski dengan alasan sudah bayar mahal untuk jadi penumpang pesawat tersebut. Tetapi saya tidak menghalangi, karena tidak tau alasan yang pas, apakah hal itu dilarang semata karena alasan sopan santun, gengsi atau dosa, secara saya sendiri juga mengutil.
Sebagai salah satu pengidap gangguan ini, maka saya tidak bisa menilai baik buruknya secara objektif. Jika para korban tidak keberatan, sah-sah saja mengutil "souvenir" dari tempat tertentu selama tidak kelewatan atau memalukan. Hanya saja saya tidak boleh keterusan, mengerikan rasanya bila akhirnya saya jadi pengutil kelas berat seperti aktris cantik Winona Ryder.
