Selamat Jalan Eyang…

Allahumma firlahu warhamhu wafuanhu…
Tayangan film dokumenter di televisi tentang masa-masa kejayaan Pak Harto membuatku terharu. Keluargaku bukan termasuk orang-orang yang mengalami kejayaan pada masa keemasan pemerintahan beliau, tetapi film itu mengingatkanku akan masa lalu. Ketika beliau menjabat sebagai presiden kedua republik ini, aku masih bersekolah. Hampir setiap hari aku melihat wajah dan senyumnya di layar hitam putih televisi berkotak kayu di rumah semi permanen kami di pinggiran kota. Aku seakan kembali ke masa lalu, bahkan bisa membaui aroma obat nyamuk bakar, hangatnya sinar petromaks, mendengar suara almarhumah ibu mengaji dan gumam lirih kakek mambaca primbon (aku ingat judulnya “Betaljemur Adammakna”). Hari-hari penuh kehangatan, saat kami begitu bahagia dalam hidup pas-pasan dengan gaji ayah sebagai prajurit berpangkat sersan menghidupi enam anaknya.
Pak Harto yang mengundang pro kontra pada masa kejayaan hingga masa kejatuhannya, bagiku adalah sebuah memori tersendiri. Kenangan manis saat berseragam putih merah, melambaikan bendera kecil menyambut kedatangannya, saat menerima balasan surat dari istana negara yang berisi fotonya beserta ibu negara atau saat menyaksikan beliau berdialog dengan petani di televisi. Aku tidak ingin mengenang kejatuhan beliau, mengungkit kebencian apalagi dendam. Aku hanya ingin mengikhlaskan dan memaafkan.
Selamat jalan eyang, semoga Allah memberikan ampunan dan kelapangan bagi eyang, serta kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan…amin…
