Sekeping Cerita di Ujung Senja

March 19, 2008

Filed under: Keseharian

Aku tau cepat atau lambat ini semua akan berakhir. Aku pernah mengalaminya dan aku tau bagaimana sakitnya. Mungkin ini semua memang salahku yang tak pernah bisa menjaga apa yang seharusnya hanya menjadi milik kita.
Maafkan aku, telah membuatmu kecewa…

February 25, 2008

Putri Komodo

Filed under: Keseharian

Beberapa hari lalu, seperti biasa saya selalu mendengar radio dalam perjalanan menuju kantor. Favorit saya adalah La Femme di 88.0 Mhz, program La Femme Morning dengan pembawa acaranya Karin Sabrina (saya tidak pernah tau bagaimana orangnya, but she’s really rock!). Kemarin ia membahas topik tentang pengiriman satwa langka Indonesia ke luar negeri, kira-kira begini intinya :

Indonesia mengirimkan beberapa jenis satwa langka ke Jepang, diantaranya komodo dan orang utan. Alasan pengiriman satwa langka tersebut adalah untuk memperkenalkan wisata Indonesia dan kekayaan alam hewaninya ke mancanegara. Satwa-satwa langka yang dijadikan duta wisata tersebut akan dipelihara di kebun binatang setempat. Yang jadi pertanyaan adalah, lantas apakah peran Putri Indonesia, Putri Pariwisata dan putri-putri lainnya yang disebut sebagai duta wisata Indonesia? Apakah putri-putri tersebut kalah pamor dengan komodo?

Saya tertawa ngakak mendengarnya, yang terbayang di benak saya adalah komodo bertampang sangar dengan liur menetes-netes merangkak lambat dengan mahkota berkilau dan selempang "Duta Wisata" di tubuhnya. Sungguh pikiran yang konyol.

February 12, 2008

Kehilangan Suara

Filed under: Keseharian

Tidak pernah saya batuk sampai suara saya serak seperti penyanyi jazz dan hilang-hilang timbul seperti gelombang radio di daerah terpencil (plus sedikit kemerosok karena leher berlendir). Jangan-jangan saya nanti tidak bisa ikut pemilihan Gubsu gara-gara kehilangan suara emoticon

January 28, 2008

Selamat Jalan Eyang…

Filed under: Keseharian

Allahumma firlahu warhamhu wafuanhu…

Tayangan film dokumenter di televisi tentang masa-masa kejayaan Pak Harto membuatku terharu. Keluargaku bukan termasuk orang-orang yang mengalami kejayaan pada masa keemasan pemerintahan beliau, tetapi film itu mengingatkanku akan masa lalu. Ketika beliau menjabat sebagai presiden kedua republik ini, aku masih bersekolah. Hampir setiap hari aku melihat wajah dan senyumnya di layar hitam putih televisi berkotak kayu di rumah semi permanen kami di pinggiran kota. Aku seakan kembali ke masa lalu, bahkan bisa membaui aroma obat nyamuk bakar, hangatnya sinar petromaks, mendengar suara almarhumah ibu mengaji dan gumam lirih kakek mambaca primbon (aku ingat judulnya “Betaljemur Adammakna”). Hari-hari penuh kehangatan, saat kami begitu bahagia dalam hidup pas-pasan dengan gaji ayah sebagai prajurit berpangkat sersan menghidupi enam anaknya.

Pak Harto yang mengundang pro kontra pada masa kejayaan hingga masa kejatuhannya, bagiku adalah sebuah memori tersendiri. Kenangan manis saat berseragam putih merah, melambaikan bendera kecil menyambut kedatangannya, saat menerima balasan surat dari istana negara yang berisi fotonya beserta ibu negara atau saat menyaksikan beliau berdialog dengan petani di televisi. Aku tidak ingin mengenang kejatuhan beliau, mengungkit kebencian apalagi dendam. Aku hanya ingin mengikhlaskan dan memaafkan.

Selamat jalan eyang, semoga Allah memberikan ampunan dan kelapangan bagi eyang, serta kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan…amin…

January 25, 2008

Kleptomaniac

Filed under: Keseharian

Kleptomaniac atau kleptomaniak atau klepto didefinisikan seperti ini menurut Wikipedia : People with this disorder are compelled to steal things, generally things of little or no value, such as pens, paper clips, tape, small toys, or packets of sugar. Some may not be aware that they have committed the theft until later.

Artinya kira-kira begini : Orang yang mengalami gangguan jiwa, sehingga suka mengutil barang-barang kecil yang kurang berharga.

Penderita gangguan ini cukup banyak dan saya adalah salah satu dengan level (bila dinilai dengan skala 1-5) sekitar 2. Awalnya pinjam, lalu lupa mengembalikan, atau lupa bilang kalau pinjam sesuatu dari meja orang lain yang pemiliknya sedang tidak ada di tempat dan sudah pasti lupa mengembalikan juga. Barang yang sudah dipinjam , bila berukuran besar seperti bolonger atau dispenser selotip, pasti dikembalikan. Tetapi bila barang tersebut berukuran kecil seperti pulpen atau tipex, pasti lupa dikembalikan (kecuali si pemilik ingat untuk memintanya). Pada beberapa kasus, saya juga menjadi korban kleptomaniak rekan kerja lain. Maka tidak heran jika alat tulis sampai mug di pantry tiba-tiba berganti pengguna tanpa seijin pemilik.

Hobi mengutil ini terutama saya praktekkan di hotel, apalagi hotel yang agak mewah dan prestisius. Yang saya ambil adalah pulpen atau pinsil yang memang disediakan bagi tamu hotel. Sekarang saya memiliki satu mug penuh pulpen dan pinsil hasil jarahan tersebut. Bukan untuk pamer bahwa saya pernah menginap di hotel X yang berbintang sekian, sebagian justru merupakan hasil klepto orang lain yang dihadiahkan ke saya dengan penuh rasa bangga.

Perkara kleptomaniak ini mengganggu saya ketika secara sadar saya tergoda untuk mengutil sendok garpu sebuah penerbangan domestik atas saran dua rekan saya yang duduk sebaris di pesawat (yang juga melakukan hal sama + wadah buah dan cangkir). Saya merasa mereka keterlaluan, meski dengan alasan sudah bayar mahal untuk jadi penumpang pesawat tersebut. Tetapi saya tidak menghalangi, karena tidak tau alasan yang pas, apakah hal itu dilarang semata karena alasan sopan santun, gengsi atau dosa, secara saya sendiri juga mengutil.

Sebagai salah satu pengidap gangguan ini, maka saya tidak bisa menilai baik buruknya secara objektif. Jika para korban tidak keberatan, sah-sah saja mengutil "souvenir" dari tempat tertentu selama tidak kelewatan atau memalukan. Hanya saja saya tidak boleh keterusan, mengerikan rasanya bila akhirnya saya jadi pengutil kelas berat seperti aktris cantik Winona Ryder.

January 1, 2008

Resolusi Tahun Baru

Filed under: Keseharian

Entah mengapa, moment tahun baru selalu ditunggu untuk membuat tekad bagi suatu perubahan. Padahal perubahan ke arah yang lebih baik sebenarnya dapat dilakukan kapan saja, tanpa memandang hari, jam atau tanggal. Tetapi entah mengapa pula tahun ini saya terpengaruh untuk membuat resolusi. Ini adalah resolusi saya tahun 2008 :

  • Mengatur keuangan lebih baik
  • Mengatur pola makan lebih baik
  • Mengatur emosi, tidak mudah marah dan berusaha lebih sabar
  • Belajar mendengarkan orang lain
  • Belajar berpikir positif
  • Lebih bijak mengambil keputusan
  • Merencanakan masa depan dan karir yang lebih baik

HAPPY NEW YEAR, MAY THIS YEAR BRINGS US MORE LUCK, JOY AND HAPPINESS…

December 30, 2007

Parkir

Filed under: Keseharian

Minggu 30 Desember malam, saya beserta beberapa anggota keluarga pergi berbelanja ke Berastagi Supermarket di Jl. Gatot Subroto untuk persiapan rekreasi ke Pantai Cermin Theme Park esoknya. Parkiran supermarket penuh, saya menjalankan mobil perlahan sambil celingak-celinguk mencari tempat parkir. Seorang pria menuju Kijang yang parkir tidak jauh dari saya. Setelah mobil di depan saya melaju untuk menempati salah satu tempat kosong, saya memberi lampu sign dan meminggirkan mobil ke kiri agar antrian di belakang saya bisa mendahului. Lampu mundur Kijang menyala dan mulai bergerak perlahan. Dengan sabar saya menunggu mobil itu keluar. Tak disangka, begitu Kijang tersebut keluar, sebuah Honda Jazz di belakang saya langsung menyalip dan masuk ke space kosong itu. Saya mengklakson kuat sampai mengejutkan petugas parkir. Saya membuka kaca dan berhenti di belakangnya, ingin tau seperti apa tampang pengemudinya. Seorang perempuan muda berdaster keluar dari mobil dan melihat ke arah saya. Saya meletakkan telunjuk di kepala lalu menunjuk lutut saya. Itu bahasa tubuh yang artinya kira-kira begini, "Bu, sesekali biarkanlah otak ibu berada pada tempatnya, sehingga ia bisa melakukan fungsinya dengan baik. Jangan biarkan otak Anda kelamaan di dengkul, biarkanlah ia berpikir. Niscaya kalau Anda menggunakannya dengan benar, Anda akan lebih dihargai orang lain!"

Petugas parkir yang merasa bersalah karena membiarkan antrian saya dipotong, berusaha mencarikan tempat bagi saya. Setelah parkir saya mengambil troli besar, menaikkan si bungsu ke dalamnya dan mulai mendorong masuk ke supermarket. Saya berdiri  di samping pendingin untuk memilih ayam ketika si perempuan berdaster singgah di tempat yang sama. Dengan kikuk dia melirik saya dan berbicara keras- keras ke rekannya yang saya yakin saat itu tidak memperhatikan. Dengan bengis saya memandangnya dari atas ke bawah. Perempuan itu memalingkan wajahnya ketika saya melirik sinis ke arah daster dan rambutnya yang awut-awutan, itu adalah bahasa tubuh yang artinya, "Penampilan sesuai kelakuan, berantakan!"

December 28, 2007

Old Song, Old Singer

Filed under: Keseharian

Kalau saya menyebut nama Frank Sinatra, dapat dipastikan 90% dari orang yang saya ajak bicara mengetahuinya. Sayang, sebagian besar tidak tau siapa Frank Sinatra. Tetapi kalau saya menyebutkan salah satu lagunya "Something Stupid" yang dibawakan kembali oleh Robbie Williams dan Nicole Kidman, hampir semua orang tau. Apalagi lagunya yang abadi "My Way", hampir setiap telinga pernah mendengarnya bahkan pernah bersenandung mengikuti iramanya. Menikmati alunan suara, irama dan tiupan saxopon pada lagu-lagu Frank Sinatra membuat saya melayang melambung-lambung. Old song from an old singer that brings back memories of my early years.

Francis Albert Sinatra, yang terlahir pada 12 Desember 1915 adalah seorang penyanyi sekaligus aktor peraih Academy Award. Jika ingin mengetahui lebih jauh tentang sang legenda, Anda bisa mendapatkan biography lengkap di http://en.wikipedia.org/wiki/Frank_Sinatra

…and this is the song…

My Way

And now, the end is near;
And so I face the final curtain.
My friend, I’ll say it clear,
I’ll state my case, of which I’m certain.

I’ve lived a life that’s full.
I’ve traveled each and ev’ry highway;
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets, I’ve had a few;
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course;
Each careful step along the byway,
But more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I’m sure you knew
When I bit off more than I could chew.
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall;
And did it my way.

I’ve loved, I’ve laughed and cried.
I’ve had my fill; my share of losing.
And now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that;
And may I say - not in a shy way,
" Oh no, oh no not me,
I did it my way".

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught.
To say the things he truly feels;
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows -
And did it my way!

http://www.youtube.com/watch?v=WOVKdlbOUTE

December 10, 2007

Cuti Paksa (Part 2)

Filed under: Keseharian

Ini adalah sequel dari episode pertama cuti paksa. Jika yang pertama untuk merayakan Lebaran, maka yang kedua adalah untuk Natal dan Tahun Baru. Cuti dilaksanakan bersama pada tanggal 26 dan 31 Desember. Tapi kali ini saya bertekad untuk masuk kerja, meski tidak ada kerjaan emoticon

Untuk tanggal 26, bos saya sudah setuju bahwa saya masuk kerja dan tidak dipotong cuti, tapi belum ada persetujuan untuk tanggal 31. Membayangkan sulitnya mendapatkan tiket untuk liburan selama peak season akhir tahun dan penuh sesaknya tempat-tempat wisata membuat saya memutuskan untuk menghabiskan malam pergantian tahun di ring road Setia Budi, membeli banyak kembang api dan bersenang-senang bersama ratusan pengendara lain yang parkir di tepi jalan sambil bergantian menyalakan kembang api.

meski angan untuk menghabiskan moment akhir tahun di atas hamparan pasir di tepi pantai menari-nari dalam benak saya…

November 28, 2007

Bayi Mungil Bernama Melisa

Filed under: Keseharian

Sepasang mata bening itu menatap saya lekat. Bibir mungilnya bergumam seperti hendak mengatakan sesuatu. Sebelah tangannya mencoba menggapai dan sepasang kaki mungilnya meronta di balik gendongan. Dia tidak menangis meski saya ingin menangis melihat keadaannya. Di usianya yang masih enam bulan, ia telah mengalami siksaan pedih dari orang tua angkatnya. Bayi mungil itu bernama Melisa. Nasibnya tak seindah namanya. Kedua orang tuanya yang kurang mampu merelakan Melisa kecil diadopsi oleh sepasang suami istri yang akhirnya justru menyiksanya dengan keji. Tubuhnya penuh lebam dan wajahnya hancur akibat luka bakar sundutan rokok. Bahkan ia telah kehilangan setengah hidungnya hingga kesulitan bernafas. Astagfirullah…terbuat dari apa hati mereka hingga tega menyiksa Melisa yang begitu mungil jadi seperti ini?

Bagi rekan-rekan Medan yang ingin membantu, dapat langsung mengunjungi Melisa di RSU Pirngadi Medan (gedung lama) ruang Eks Personalia Lt. 2 (masuk dari belakang, Jl. Perintis Kemerdekaan). Sampai saat ini ibu kandungnya tidak tahu siapa yang akan membantu biaya pengobatan Melisa meski surat keterangan miskin sudah diurus. Berikut potongan berita dari detik.com 

*Saya mengekspos kasus ini tanpa kepentingan apapun, hanya ingin mengetuk hari rekan-rekan yang mungkin memiliki rezeki berlebih untuk membantu dan saya tidak melampirkan foto Melisa disini karena tidak ingin terjadi salah persepsi* 

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Chris M